Profil Pdt. Wahyu Purwaningtyas
Menjadi pendeta adalah sebuah jabatan yang tidak pernah saya bayangkan pada masa sekolah saya dari kecil hingga SMU. Namun peristiwa-demi peristiwa membawa saya pada kesadaran diri bahwa sebenarnya Tuhan berkehendak agar saya menjadi Saluran Berkat dan Keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus bagi banyak orang.
Berawal ketika selepas dari SMU di Batang, saya sebenarnya sudah diterima menjadi mahasiswi lewat jalur MPDK (bebas tes) sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Tetapi peluang itu tidak saya ambil karena saya menginginkan kuliah di fakultas dan Perguruan Tinggi Negeri lainnya yang saya anggap lebih bergengsi. Setelah mengikuti tes di sana ternyata hasil yang saya dapatkan sangat mengecewakan karena saya dinyatakan tidak lulus tes. Saya bingung, mau kuliah di tempat lain sudah kehilangan momentum karena waktunya sudah terlambat jauh. Jadilah akhirnya saya kuliah sedapatnya di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Semarang,, yang sebenarnya sangat tidak saya sukai.
Setelah beberapa bulan menjalani kuliah, suatu malam ketika tidur saya bermimpi ada Sinar yang luar biasa terangnya (saat itu saya tidak sanggup untuk menatapnya) dengan bersuara agar saya mengikut Dia untuk menyelamatkan orang-orang di sekeliling saya. Saya balik bertanya, “mengapa harus saya?”, “mengapa bukan orang lain?”. Sinar terang itu terus bersuara karena Dia memang menghendaki saya. Dan saya lihat pada saat itu saya seperti sedang berdiri dan serta merta tanah tempat saya berpijak itu terbelah menjadi dua, orang-orang yang berada jauh dari saya tidak ada yang selamat, dan masuk ke dalam belahan bumi, sedangkan orang-orang yang berada di belakang saya semuanya selamat.
Hari demi hari saya renungkan mimpi yang baru saya alami ini, hingga sampai pada satu titik kesadaran bahwa Tuhan telah memanggil saya dan saya secara pribadi menjawab “Ya” atas panggilan ini. Untuk itu saya harus masuk sekolah Teologia untuk mewujudkan panggilan ini. Hari-hari esoknya tentu menjadi pergumulan tersendiri untuk saya mengingat saat itu saya masih kuliah di Semarang. Bagaimana saya harus ungkapkan ini ke orang tua saya? Memang benar, ketika saya utarakan maksud saya ini seketika Ayah saya marah besar, “mau di kemanakan prestasimu selama ini?”, “mau jadi apa nanti setelah lulus teologia?”. Sungguh waktu itu saya harus melalui proses yang sedemikian sulit. Jatah kebutuhan sehari-hari saya selama kuliah di Semarang diperketat, sampai-sampai ada satu masa dimana satu hari saya harus makan satu kali saja senilai Rp. 500,00. Kalau suatu hari saya ingin makan ubi, maka selama seharian itu saya hanya makan ubi itu saja.
Demikian Tuhan terus memproses saya dan keluarga, hingga suatu saat ayah yang sebelumnya menentang keinginan saya ini kemudian menyadari dan memberi restu atas keinginan sayai. Jadilah saya kuliah teologia di STT Dutawacana.
Enam tahun saya menyelesaikan kuliah di STT Dutawacana. Bersamaan dengan kelulusan saya, rupanya Tuhan sudah menyiapkan lahan pelayanan untuk saya, yaitu di GKJ Nusukan. Setelah melalui berbagai tahapan pemanggilan pendeta, mulai dari perkenalan, orientasi, pembimbingan dan ujian peremtoir, maka pada tanggal 27 Juni 2003 akhirnya saya ditahbiskan sebagi pendeta GKJ Nusukan.
February 15 2010 06:58 pm | Kategori bebas