… ada dua peristiwa mengawali keterlibatan saya dalam pelayanan di gereja yaitu pertama, sebagai orang yang baru datang dari desa (1984) ke Jakarta, saya merasa senang karena telah diperhatikan dan diterima oleh Persekutuan Pemuda sebuah gereja di Jakarta.
Peristiwa kedua, ketika di Persekutuan Pemuda Gereja dimana saya aktif saat itu terjadi perpecahan. Waktu itu saya terpanggil untuk menyatukan kembali diantara pemuda yang ada hingga Persekutuan Pemuda di gereja itu bisa berjalan kembali.
Peristiwa ketiga, … sungguh sebuah keajaiban sudah Tuhan atur untuk hidup saya, ketika itu saya sedang mengikuti seleksi masuk di STT Dutawacana. Setelah test tahap pertama, saya harus mengikuti test kesehatan dimana waktu itu saya harus membayar Rp. 15.000,00. Saya bingung tidak punya uang. Akhirnya saya memberanikan diri minta pekerjaan kepada mandor sebagai pekerja bangunan di proyek yang sedang dikerjakan di kampus STT Dutawacana tersebut dengan bayaran Rp. 1.250,00 / hari. Hitung-hitung sampai dengan batas akhir harus membayar ternyata uang tidak mencukupi, karena saya hanya bekerja selama 6 hari. Setelah mengalami proses panjang, pada malam menjelang batas akhir pembayaran saya datang kepada seorang Ibu majelis sebuah gereja di Yogyakarta (beliau adalah masih kerabat dari teman Persekutuan Pemuda di Jakarta). Saya katakan “Bu, besok pagi saya harus mengikuti seleksi di STT Dutawacana, tapi saya tidak punya teman atau saudara untuk tempat menginap”, secara tak terduga Ibu itu katakan kepada saya, “ oh…, silakan kalau mau menginap di rumah saya bisa, tidak apa-apa” (rumah ibu tersebut adalah untuk kos-kosan mahasiswa).
Akhirnya malam itu saya menginap di rumah Ibu tersebut, saya disambut dengan hangat oleh keluarga itu. Satu hal yang membuat saya gelisah adalah meskipun saya sudah mendapatkan tempat menginap pada malam itu, tetapi saya sama sekali tidak memegang uang sepeser pun untuk membayar test kesehatan esok harinya.
Akhirnya, keesokan harinya saya pamitan ke Ibu tadi untuk ke kampus. Saat pamitan, Ibu tadi teringat bahwa ada titipan surat untuk saya dari teman saya di Jakarta. Ketika saya buka saya tertegun, kaget, senang, dan bersyukur kepada Tuhan, karena ternyata di dalam surat itu diselipkan uang sejumlah Rp. 20.000,00. Baru setelah itu saya bisa bercerita kepada Ibu itu sekeluarga, bahwa sebenarnya semalaman saya sulit tidur karena tidak memegang uang sepeser pun. Mendengar cerita saya, Ibu sekeluarga itu terharu, bahkan lalu menambahkan uang saku untuk saya. Ketika sekali lagi saya mau pamit, ada mahasiswa kos di tempat itu yang mendatangi saya, dia katakan kepada saya di depan keluarga ibu tadi bahwa, “saya sudah mendengar cerita adik tadi, saya terharu dan senang karena Tuhan sangat mengasihi adik”, kemudian ia pun memberikan uang saku untuk saya.
… sungguh Tuhan sangat mengasihi saya…, Dia sudah mengatur hidup saya melalui orang-orang terkasihNya.

