A. Pelayanan Sekolah Minggu
Periode Tahun 1967 – 1977
Mengiringi masa-masa menjelang pendewasaan Jemaat Sala Utara sebenarnya ada peran yang tidak kalah pentingnya yaitu bahwa pada tahun 1967 telah dirintis kegiatan sekolah minggu oleh Sdr. Sri Agustin (Ibu Sri Agustin Widodo – Kelompok Kanaan), Sdr. Immanuel — Alm. (adik Ibu Sri Agustin) dan Sdr. Sri Hastuti (sekarang tinggal di Purwodadi). Saat itu tempat sekolah minggu di rumah Bp. Poespoatmodjo dengan dihadiri sekitar 30 anak sekolah minggu. Untuk selanjutnya jumlah murid sekolah minggu semakin bertambah sehingga Ibu Sri Agustin kewalahan maka pada 1968 beliau minta bantuan kepada pemuda yakni Sdr. Suyatmanto (Bp. Suyatmanto — Kelompok Kalvari), dan selanjutnya Bp. Suyatmanto mengajak pemuda-pemuda lainnya untuk ikut terlibat dalam mengajar sekolah minggu seperti Sukasto (Kalvari), Rusdiyatmo, Rustinah (adik Rusdiyatmo), Cuk Watmoko — Alm. (putra Bp. Poespoatmodjo), Pujo … (Alm.). Tempat kegiatan sekolah minggu saat itu kemudian bertambah satu lagi yaitu di rumah Bp. Sastrowiyono (Nayu Barat).
Pada tahun 1969 diadakan penataran guru sekolah minggu, dan sebagai penatar/narasumber saat itu adalah Ibu Sudaryati Adisubroto (Alm.). Saat itu penataran diikuti sekitar 20 orang pemuda. Dan tidak lama berselang setelah penataran guru sekolah minggu itu perkembangan jumlah murid sekolah minggu semakin pesat sehingga rumah Bp. Poespoatmodjo saat itu sudah tidak mampu menampung lagi. Menyikapi ini maka Pengasuh sekolah minggu memohon pinjam gedung Sekolah Dasar Negeri Nusukan 44, yang saat itu Penilik Sekolahnya adalah Bp. Sanyoto (Kelompok Kanaan). Saat itu kegiatan sekolah minggu menggunakan enam ruang kelas dengan rata-rata tiap kelas menampung sekitar 30 anak sekolah minggu.
Meskipun jumlah murid sekolah minggu aktif pada saat itu sekitar 150 anak, tetapi pada saat perayaan-perayaan natal/paskah jumlah yang hadir jauh lebih banyak bahkan, mencapai 400 anak lebih pada saat itu. Tentu ini hal yang patut disyukuri karena benih-benih “pemuridan” sudah tersebar dan tertanam dengan subur di Jemaat Nusukan. Pun demikian meski pelayanan Ibu Sri Agustin di sekolah minggu Nusukan sudah demikian padat tetapi beliau masih sempat mengajar sekolah minggu di Prayunan (Solo Timur).
Pada pertengahan 1970 terbentuk struktur Kemajelisan yang baru dimana didalamnya terdapat Komisi Sekolah Minggu yang merupakan bagian dari Seksi Kesaksian. Adapun Pengurus Komisi Sekolah Minggu waktu itu adalah : Sdr. Sri Agustin (Ketua I), Rusdiyatmo (Ketua II), Sularto (Penulis I), Triwahono (Penulis II), Suwarto (Penulis III), Suyatmanto (Bendahara I), Darini (Bendahara II).
Hal positif yang dirasakan Ibu Sri Agutin pada saat itu adalah adanya kekompakan semua pemuda-pemudi GKJ Nusukan untuk turut serta mengajar sekolah minggu. “Kalau itu bisa dilakukan pada saat ini tentu akan memberi hasil yang luar biasa pula”.
Kiprah Ibu Sri Agustin dalam mengasuh sekolah minggu di Nusukan sempat terhenti karena beliau harus pindah tugas mengajar di Sragen (1977) dan Karanganyar (1978-1979).
Periode 1978 – 1999
Setelah Ibu Sri Agustin tidak bisa aktif mengajar sekolah Minggu di GKJ Nusukan maka pada tahun 1978 pengasuhan sekolah minggu dilanjutkan oleh Ibu Sastro Wiyono (alm.) dibawah koordinasi Ibu Mien Sanyoto (Kelompok Kanaan).
Pada masa ini pola pengembangan sekolah minggu kemudian diubah dari pola sentralistik (menyatu di induk dan tempat tertentu) menjadi pola kelompok-kelompok kecil yakni menempati wilayah sesuai kelompok-kelompok yang ada di GKJ Nusukan saat itu, yang memiliki 10 kelompok dan dua pepanthan (Ngipang dan Welar). Tempat-tempat sekolah minggu waktu itu adalah :
Kelompok I Utara : Ibu Rohmadiono, sempat pindah di rumah Bp. Dayat.
Kelompok I Selatan : Ibu Sunyoto, sempat berpindah di rumah Bp. Suharto Ys.
Kelompok II : Bp. Suparjo
Kelompok III : Bp. Suyitno, sempat berpindah di rumah Bp. Heri Sanyoto
Kelompok IV : Bp. Bambang Suryadi
Kelompok V : Bp. Purwoatmodjo, sempat berpindah di rumah Bp. Ngadiyo Dt
Kelompok VI : Ibu Sudarto, sempat berpindah di rumah Ibu Sadono (alm)
Kelompok VII : Ibu Mujio Adi Kristyono (alm) / Bp. Puji Astito.
Kelompok VIII Selatan : Bp. G. Christyoboedi
Kelompok VIII Utara : SD Kristen Setabelan (Combong)
Kelompok IX : Ibu Suci Mintarti
Kelompok X Barat : Bp. Drs. Sujarwo
Kelompok X Timur : Bp. Bambang Saptowo
Pepanthan Ngipang : Gereja Ngipang
Pepanthan Welar : Gereja Welar
Pada masa ini pun Ibu Mien Sanyoto dan beberapa aktifis gereja lainnya seperti bapak Sukiya (Bibis luhur), dll. yang saat itu aktif di Klasis juga merintis adanya sekolah minggu remaja di GKJ Klasis Sala, termasuk GKJ Nusukan. Untuk pengembangan Sekolah Minggu Remaja GKJ Nusukan sendiri saat itu banyak pengurus Pemuda termasuk Bp. Puji Astito, Bp. Sancoyo dan lain-lainnya yang terlibat di dalamnya.
Dalam masa ini sampai dengan akhir tahun 1980-an, perkembangan sekolah minggu di GKJ Nusukan makin pesat. Jumlah guru pengajar sampai sekitar 60-an, murid sekolah minggu lebih dari 600 anak. Kegiatannya beragam, banyak yang diraih anak-anak sekolah minggu di berbagai ajang lomba di Surakarta. (lihat lampiran prestasi GKJ Nusukan.
Periode 1990 – sekarang
Menginjak tahun-tahun awal era 1990-an perkembangan jemaat dan kependudukan di Surakarta, khususnya di Nusukan mengalami perubahan drastis. Hal ini berdampak pula pada kondisi sekolah minggu GKJ Nusukan. Generasi-pemuda aktifis era 1980-1990-an saat itu banyak yang tidak bisa aktif lagi mengajar di sekolah minggu karena berbagai alasan, seperti sudah berkeluarga, bekerja / kuliah di luar kota, dan lain-lain. Praktis pada masa ini jumlah guru sekolah minggu mengalami penyusutan. Demikian halnya jumlah murid sekolah minggu di kelompok-kelompok mulai menyusut, penyebabnya selain karena keberhasilan program Keluarga Berencana juga karena adanya perubahan pola pergaulan kemasyarakatan di Nusukan dan sekitarnya.
Menyikapi perkembangan sekolah minggu yang sedemikian, maka sejak 2002 dilakukan langkah-langkah perubahan struktur pengelolaan sekolah minggu di GKJ Nusukan. Adapun perubahannya adalah sebagai berikut :
- Untuk beberapa sekolah minggu di kelompok yang sudah tidak efektif diwadahi dalam sekolah minggu yang diadakan di gereja pada hari minggu, dimulai jam 07.30 (pagi) dan 16.00 (sore).
- Persiapan mengajar sekolah minggu dilakukan oleh tim secara intensif, baik dalam materi ajar, alat peraga, petugas-petugas, dan lain-lain.
- Pembagian kelompok sekolah minggu menjadi empat yaitu : Indria (kurang dari 7 tahun), Pratama (8-10 tahun), Madya (11-12 tahun) dan Pra-Remaja (diatas 13 tahun).
Demikian juga bentuk-bentuk kegiatan sekolah minggu lebih variatif, seperti kebaktian, persekutuan, PA (tiap kamis kedua dan ketiga), latihan vokal dan musik, lomba antar anak SM, makan bersama tiap minggu terakhir, kebaktian padang, Persami, retreat, dll. Bahkan beberapa tahun terakhir telah dibuat buletin “sukacita” sebagai media komunikasi dan kreatifitas anak sekolah minggu.
B. Pelayanan Pos Pendidikan Anak Usia Dini “Sinar Kasih” (PAUD).
Pos PAUD “Sinar Kasih” berdiri dan mulai melakukan kegiatan pada tahun ajaran baru 2008/2009. Adalah lembaga pelayanan kepanjangan tangan Majelis untuk turut memberikan pelayanan dalam dunia pendidikan. Baik Kepengurusan maupun pertanggungjawabannya tidak terkait langsung dengan kemajelisan. Namun demikian karena saat ini menempati area di GKJ Nusukan, maka untuk segala sesuatu urusan ke luar harus sepengetahuan Majelis GKJ Nusukan.
Adapun pengasuh Pos PAUD ini adalah :Ibu Sutarti Sukiyono, Ibu Suminten, SPd., Bp. Drs. Sujarwo, Sdr.Cahayani P. Widati dan Ibu Sri Agustin dan Ibu Maria Sri Hartati.
Di awal aktivitasnya Pos PAUD Sinar Kasih menerima murid 35 anak, terdiri dari warga GKJ Nusukan dan Non GKJ Nusukan, bahkan ada anak dari keluarga yang orang tuanya belum bergereja. Kegiatan pada jam 16.00, setiap hari Selasa dan Jum’at. Bentuk pelayanan yang diberikan seperti pada sekolah Play Group. Dan sejak berdirinya sudah diadakan beberapa pentas dan kegiatan lainnya seperti : pentas tari, nyanyi di Ibadah Perayaan HUT ke 39 GKJ Nusukan 2008.
C. Pelayanan Remaja dan Pemuda
Pada awal pendewasaan GKJ Nusukan, jumlah warga remaja-pemuda ada sekitar 30 orang. Dalam kemajelisan yang dibentuk pada pertengahan tahun 1970, pengurus Komisi Pemuda saat itu terdiri dari :
Ketua I : Sdr. Suyatmanto
Ketua II : Sdr. Rusdiyatmo
Penulis I : Sdr. Kasihno
Penulis II : Sdr. Suwarto
Penulis III : Sdr. Hera
Bendahara I : Sdr. Rosina
Bendahara II : Sdr. Sri Agustin.
Saat itu Persekutuan remaja-pemuda menjadi satu yang diadakan di rumah Bapak Puspoatmodjo, Jl. Adisumarmo. Belum banyak kegiatan yang dilakukan, hanya sebatas vocal group, pemahaman Alkitab, mengajar sekolah minggu dan sinoman guna membantu warga sekitar gereja yang sedang hajatan.
Demikian halnya dengan usia para pemuda yang kala itu hampir sama (sekitar 25 – 30 tahun) membuat rasa kebersamaan, kekeluargaan dan semangat yang sangat tinggi untuk selalu ikut terlibat dalam pelayanan gereja. Bahkan di tahun 1970 pemuda juga bersama-sama bergotong-royong untuk membangun gereja di Prawit (GKJ Nusukan sekarang).
Demikian halnya dalam kegiatan olah vokal, kegiatan pemuda kala itu sangat dinamis dan maju. Kelompok paduan suara “Herodian” merupakan cikal bakal tumbuhnya kelompok paduan suara di GKJ Nusukan. Beberapa aktifis tua yang sekarang masih ada adalah : Ibu Sumarno Ds, Ibu Purwanti Ngadiyo, Ibu Agung, Ibu Sri Agustin, Ibu Tinah, Bp. Sukrisna, Bp. Suyitno, Bp. Sudarmadi, Bp. Susapto dan Bp. Istijab (Wisma Panembah). Suatu ketika pernah Pemuda GKI Nusukan meminta bantuan kepada Pemuda GKJ Nusukan untuk memperkuat tim Vocal Group GKI Nusukan dalam rangka PESPARAWI, hasil dari lomba ini GKI Nusukan meraih gelar Juara II (setelah diperkuat Pemuda GKJ Nusukan).
Pada Juni 1978 secara internal GKJ Nusukan mampu mengadakan PESPARANI Lokal yang pesertanya adalah kelompok-kelompok dan pepanthan yang ada di Nusukan. Buah dari PESPARANI lokal ini, banyak potensi-potensi yang bermunculan, sehingga pada Juli 1979 GKJ Nusukan, dengan pelatih Ibu Dra. Sudaryati Adi Suripto (alm.) mampu mengirimkan tim paduan suaranya ke ajang PESPARANI Margoyudan Cup.
Kegiatan Remaja-Pemuda digabung.
Pada tahun 1978, ketika pemuda dibawah asuhan Sdr. Puji Astito, diadakan penggabungan kegiatan remaja dan pemuda. Pertimbangannya saat itu karena usianya relatif hampir sama. Dengan dibantu beberapa pengurus pemuda saat itu, mulailah diadakan kegiatan pemuda yang lebih variatif, antara lain persekutuan, camping, retreat, kebaktian padang dan lain-lain, sehingga hubungan antar remaja-pemuda sangat erat serta memiliki semangat tinggi. Saat itu kegiatan persekutuan dilakukan di SDN 69 (prawit) dan SDN 44. Jumlah yang hadir rata-rata 43 orang meliputi warga GKJ Nusukan, pepanthan Ngipang dan pepanthan Welar.
Kegiatan-kegiatan lain yang sering diikuti adalah Lomba Paduan Suara Margoyudan Cup, yang saat itu dilatih oleh Ibu Dra. Sudaryati A.S., mengisi ibadah minggu dan PA gabungan dengan pepanthan Ngipang dan Welar. Pada tahun 1980-an kegiatan olah raga dan seni menjadi kekuatan dan ciri yang melekat di GKJ Nusukan, keberhasilan di berbagai ajang lomba pun sering diraih (lihat lampiran Prestasi GKJ Nusukan). Demikian juga pentas-pentas seni panggung gerejawi banyak dilakukan atas undangan pihak luar.
Isue Children Of God (COG) Mengganggu Kenyamanan Kegiatan.
Sekitar tahun 1985-1986 berkembang sebuah aliran Children of God. Oleh karena kegiatan-kegiatannya menyimpang dari ajaran gereja, maka aliran ini dilarang oleh Pemerintah. Dan karena kegiatan Pemuda saat itu masih bertempat di SDN 69 dan SDN 44 maka setiap kegiatan yang dilakukan pemuda saat itu harus dilaporkan ke kepala sekolah. Karena situasi yang tidak nyaman maka kegiatan persekutuan pemuda dipindahkan ke rumah Bp. Parjoko (alm. – kelompok Sinai). Perkembangan selanjutnya, akhirnya gereja mengambil inisiatif untuk mewadahi kegiatan Persekutuan pemuda ini setiap hari sabtu di gedung gereja GKJ Nusukan.
Pemisahan kegiatan remaja – pemuda.
Demikian seterusnya sampai sekarang ini kegiatan-kegiatan remaja – pemuda nampak lebih variatif dengan menyesuaikan perkembangan jaman. Jika sampai pertengahan era tahun 1980-an kegiatan remaja-pemuda digabung, maka setelah masa ini, mengingat jumlah warga remaja-pemuda yang aktif makin banyak dan beragam usianya maka dalam kegiatannya mulai dipisahkan antara remaja dan pemuda agar lebih efektif dan optimal.
Dengan pemisahan ini memang program-program kegiatan bisa lebih efektif, tetapi karena masing-masing aktifis terlanjur “kerasan” di komunitasnya masing-masing sehingga regenerasi menjadi terabaikan, dan aktifis yang mestinya sudah berpindah ke kategori pemuda masih tetap saja di remaja. Menyikapi hal ini maka tiga tahun terakhir ini, mulai tahun 2007 diadakan pembenahan dalam rangka regenerasi ini dengan mensinergikan kegiatan antar kategorial. Hasilnya memang sudah mulai bisa dirasakan, dinamika kegiatan di remaja maupun pemuda mulai membaik.
D. Pelayanan Warga Dewasa.
Pelayanan warga dewasa ini pada awal pendewasaan GKJ Nusukan bernama Komisi Wanita. Penamaan komisi wanita ini terus berlangsung hingga Awal tahun 2000-an yang secara klasikal setelah era penamaan diganti menjadi Komisi Warga Dewasa. Perubahan ini dimaksudkan supaya kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh para ibu-ibu saja, tetapi juga bapak-bapak.
Di awal pendewasaan, kegiatan Komisi Wanita antara lain sekolah jahit, PA, dll. Untuk Sekolah jahit ikut terlibat didalamnya antara lain Ibu Sriyani Adi Subroto, Ibu Sukiyatno, dll.
Kini Komisi Warga Dewasa di GKJ Nusukan berubah penamaan menjadi Pokja Dewasa. Kegiatan anatara lain Persekutuan, PA, Kebaktian Padang, Sarasehan, dll.
E. Pelayanan Adi Yuswa.
Meskipun ada penamaan Pelayanan Adi Yuswa, tetapi dalam rutinitas kegiatannya warga adi yuswa juga berkegiatan bersama-sama dengan Pelayanan Warga Dewasa, seperti : PA dan Persekutuan. Bahkan Kebaktian Padang yang diadakan oleh Pokja Dewasa pun kadang-kadang diikuti oleh warga Adi Yuswa. Yang agak berbeda adalah justru Adi Yuswa memiliki dua kelompok pujian yaitu Kelompok Paduan Suara Sonora Adi Wreda (bapak-bapak) dan Paduan Suara Naomi Tabita (ibu-ibu). Demikian halnya meskipun namanya Adi Yuswa tetapi Pokja ini justru lebih aktif berkegiatan ke luar dan bekerja sama dengan pihak luar (gereja lain).
F. Pelayanan Puji-Pujian.
Sejak didewasakannya GKJ Nusukan sampai sekarang, adanya kelompok pujian menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika tumbuh kembangnya GKJ Nusukan. Adalah kelompok Paduan Suara “Herodian” merupakan cikal bakal tumbuhnya kelompok vokal dan paduan suara di GKJ Nusukan. Beberapa aktifis tua yang sekarang masih ada adalah : Ibu Sumarno Ds, Ibu Purwanti Ngadiyo, Ibu Agung, Ibu Sri Agustin, Ibu Tinah, Bp. Sukrisna, Bp. Suyitno, Bp. Sudarmadi, Bp. Susapto dan Bp. Istijab (Wisma Panembah).
Di tahun 1977 Pemuda mampu berprestasi dengan meraih sebagai juara I Lomba Vocal Group di GKJ Margoyudan. Keberhasilan kelompok ini membawa angin segar bagi pembinaan kelompok Paduan Suara di GKJ Nusukan, sehingga pada tanggal 8 Nopember 1977 telah dilahirkan kelompok paduan suara Soli Deo Gloria, dengan jumlah anggota 60 orang.
Demikian juga untuk menggali potensi-potensi baru di kelompok maka pada bulan Juni 1978 diadakan PESPARANI Lokal (antar kelompok dan pepanthan di GKJ Nusukan). Selanjutnya dari PESPARANI lokal ini lalu mejadi tonggak pembinaan terhadap potensi-potensi yang bermunculan GKJ Nusukan, sehingga pada Juli 1979 GKJ Nusukan, dengan pelatih Ibu Dra. Sudaryati Adi Suripto (alm.) mampu mengirimkan tim paduan suaranya ke ajang PESPARANI Margoyudan Cup.
Dari pembinaan yang intensif ini maka mulai awal 1980-an GKJ Nusukan mampu menempatkan sebagai Gereja yang memiliki kelompok vokal dan paduan suara yang disegani di berbagai ajang lomba / kompetisi karena sering memenangi berbagai lomba, mulai dari anak sekolah minggu, remaja, pemuda, Ibu-ibu, adi yuswa, Soli Deo Gloria (lihat lampiran Prestasi GKJ Nusukan). Di sisi lain dalam mendukung jalannya peribadatan di GKJ Nusukan, kemudian banyak bermunculan kelompok kelompok Pujian, baik yang beraliran klasik barat, klasik daerah (jawa), pop rohani, dll, yang saat ini berjumlah 16 kelompok pujian, yaitu :
- Paduan Suara Soli Deo Gloria (anggota dari berbagai kelompok);
- Vocal Group Higayon (lahir dari para pemuda dari generasi Sdr. Redi Saptono, Rimbo, dll.);
- Paduan Suara Naomi Tabita (anggota ibu-ibu adi yuswa);
- Paduan Suara Sonora Adi Wreda (anggota bapak-bapak adi yuswa);
- Vokal Group Sekolah Minggu (anggota anak-anak sekolah minggu);
- Paduan Suara Getsemane (anggota warga kelompok Getsemane);
- Vocal Group/Paduan Suara Galilea (anggota warga kelompok Galilea);
- Paduan Suara Banyuanyar (anggota warga pepanthan Banyuanyar);
- Langen Sekar (didirikan oleh Ibu Srikandini, beranggotakan warga berbagai kelompok);
- Vocal Group Remaja (anggota anak-anak remaja);
- Vocal Group Gita Philia (Pimpinan Dr. S. Probowardoyo, beranggotakan bapak-bapak dari berbagai kelompok);
- Vocal Group Langen Puji Rumanti (pimpinan Dr. S. Probowardoyo, beranggotakan ibu-ibu dari berbagai kelompok);
- Vocal Group D’Metria (anggota warga dari berbagai kelompok);
- Vocal Group Pemuda (anggota para pemuda);
- Langen Sari Pamuji KWOD (Pimpinan Ibu Mien Sanyoto, beranggotakan warga berbagai kelompok);
- Langen Sabdo Linaras (Didirikan oleh Ibu Katiman, beranggotakan warga beberapa kelompok).
G. Pelayanan Sosial, Nasi Murah, Basar dan Bantuan Bencana.
Pada tahun anggaran 2008/2009, Majelis GKJ Nusukan telah membentuk dan memberlakukan sebuah Pokja yang khusus menangani pelayanan sosial, nasi murah, basar dan bantuan bencana. Termasuk dalam Pokja ini adalah : Ibu Sri Hartatiek, Ibu Suwarni Madiman, Bp. Yakup Fina, Ibu Sumani Yulianto, Ibu Wiwik Sugeng Raharjo, Bp. Rimba P, Sdr. Samuel dan Sdr. Gilang.
1. Penjualan Nasi Murah
Mengawali kegiatannya, bersamaan dengan pelaksanaan bulan ramadhan (September 2009) diadakan penjualan nasi murah (Rp. 1.000,00 / porsi) kepada masyarakat umum, dengan fokus untuk masyarakat tidak mampu. Kegiatan ini dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan jemaat dan kelompok baik dalam hal dana, pengadaan makanan maupun pelayanan kepada masyarakat. Dalam sehari dapat dilayani sekitar 120 – 150 porsi, dengan menu bergantian tiap harinya.
Tanggapan masyarakat yang berlangganan nasi murah pelayanan ini, mereka sangat terbantu adanya penjualan nasi murah. Diharapkan kegiatan ini dapat diadakan lagi di tahun-tahun berikutnya, dengan jumlah porsi yang lebih banyak lagi. Dan Tindak lanjutnya, pada Ramadhan tahun ini kegiatan yang sama juga diadakan lagi.
2. Basar
Bertepatan dengan pelaksanaan rangkaian kegiatan HUT GKJ ke 39 dan MPHB, maka diadakan basar di helaman parkir GKJ Nusukan. Dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober 2008 pada jam 08.00 sampai selesai. Adapun peserta basar yang terlibat berasal dari warga dan non warga, dan kepada peserta basar tidak dipungut biaya apa pun.
3. Bantuan Bencana
Ketika terjadi banjir di Solo utara pada tanggal 2-3 Maret 2009, GKJ Nusukan melalui Pokja ini mengadakan aksi sosial dengan memberikan bantuan kepada masyarakat yang terkena musibah banjir. Wilayah sasaran masyarakat yang dibantu adalah beberapa wilayah di : Praon, Tapen, Combong, Banyuagung, Ngipang dan Banyuanyar. Adapun bantuan yang diberikan berupa : sembako, pakaian, buku dan alat tulis. Dalam pelayanan ini ikut terlibat : Ibu Pendeta Wahyu Purwaningtyas, Bp. Bambang Sriwiyadi, Bp. Dwi Hadinugroho, Bp. Haragiyono, dll. Sedangkan Bapak Pendeta Eko Prasetyo tidak ikut serta karena rumah Pastori tempat beliau tinggal juga terkena banjir.
H. Pelayanan Rukun Kematian
Termasuk dalam Pelayanan Rukun Kematian ini meliputi kegiatan Pengorganisasian Makam Kristen, Pralenan, dan Pangrukti Loyo.
1. Pengorganisasian Makam Kristen.
Pengelolaan makam di Bonoloyo sebenarnya sudah ada sejak jaman Belanda, namun demikian ada kesepakatan-kesepakatan antara GKJ Margoyudan dan GKJ Manahan untuk pengelolaan makam bagi warga gereja saat itu. Dan sejak GKJ Nusukan didewasakan, kesepakatan bersama diperluas menjadi antara GKJ Margoyudan, GKJ Manahan dan GKJ Nusukan. Sejak saat itu Gereja memfasilitasi pelayanan tempat pemakaman kristen ini di Tempat Pemakaman Umum Bonoloyo – Surakarta yang saat itu lokasinya berada di sisi timur bagian selatan TPU Bonoloyo. Saat itu Bapak Ngadiyo Dt. sempat untuk beberapa waktu menjadi Juru Kunci Makam Kristen ini.
Dengan tumbuh kembangnya gereja-gereja di Surakarta, maka tuntutan pelayanan penyediaan makam kristen ini makin bertambah. Karena itu dalam perkembangannya Gereja-gereja pemrakarsa memandang perlu adanya penyempurnaan tata laksana organisasi makam kristen. Untuk itu pada tanggal 14 Agustus 1987 diadakan pertemuan Gereja-gereja Pemrakarsa Pertama ditambah GKJ Bibisluhur. Gereja-gereja Pemrakarsa mengirim utusan masing-masing yaitu : Sutomo Dwidjokartono dari GKJ Margoyudan, Kiswoko dari GKJ Manahan, Pudjokaryono dari GKJ Bibisluhur dan Sudjonohadi BE dari GKJ Nusukan. Hasil pertemuan para utusan menyepakati untuk membentuk suatu tata pengorganisasian makam Kristen yang lebih teratur dan jelas, diberi nama PENGURUS MAKAM KRISTEN BONOLOYO (PMKB).
Salah satu pasal dari Pedoman Dasar Makam Kristen Bonoloyo tersebut adalah, bahwa perlu dibentuk suatu pengurus dengan masa bakti 3 ( tiga ) tahun, serta setelah habis masa jabatannya dapat dipilih kembali. Demikian juga disepakati bahwa salah satu dari keempat gereja pendiri tersebut, harus bersedia menjadi Gereja Pengampu PMKB yang nantinya dijabat secara bergiliran.
Sejarah mencatat bahwa mulai periode tahun 1987 sampai sekarang, gereja pengampu baru berpindah satu kali kepada GKJ Bibisluhur selama satu daur masa jabatan. Selebihnya atas keputusan gereja-gereja pendiri PMKB, GKJ Nusukan terus menerus dipercaya untuk menjadi Gereja Pengampu Pengelolaan makam Kristen Bonoloyo sampai sekarang. Demikian juga jumlah keanggotaan Gereja sebagai Pendiri PMKB sudah bertambah menjadi 7 ( tujuh ) gereja, yaitu GKJ Margoyudan, GKJ Manahan, GKJ Bibisluhur, GKJ Nusukan, GKJ Mojosongo, GKJ Sabdowinedhar Klodran dan GKJ Sumber .
Perjalanan waktu pelayanan penyediaan lahan makam semakin memerlukan penanganan secara profesional, maka atas dasar Surat Walikota Surakarta Nomor 593/121/8/2000 tanggal 18 Agustus 2000, diminta kepada Pengurus PMKB agar lembaga yang selama ini hanya berbentuk Perkumpulan, dirubah dengan bentuk Yayasan. Dengan berbagai pertimbangan berdasarkan Keputusan Rapat Pengurus PMKB dengan Utusan Gereja-gereja Pendiri, maka disepakati perlu segera mengajukan perubahan bentuk lembaga dari semula Perkumpulan, menjadi bentuk Yayasan. Akhirnya baru pada tanggal 11 Maret 2006 tepat pukul 11.00 WIB ditandatangani bersama bentuk baru lembaga yang diberi nama YAYASAN PAKARTI MULIA oleh Para Pengurus PMKB waktu itu, dengan Akta Nomor 7, didepan Notaris TOTO SUSMONO HADI, SH di Surakarta.
Lahan Makam Baru di Jeruksawit.
Upaya pengembangan lahan makam di sekitar Bonoloyo Kadipira Surakarta, sudah tidak memungkinkan lagi, maka berdasarkan keputusan Pengurus Yayasan Pakarti Mulia bersama Gereja-gereja Pendiri, pada tanggal 02 Agustus 2008 ditandatangani pembelian bakal lahan makam yang baru di Dukuh Plosokerep, Desa Jeruksawit, Kecamatan Gondangreja, Kabupaten Karanganyar seluas 6425 m2.
Pada bulan April 2009 dengan berat hati Pengurus Yayasan Pakarti Mulia mengumumkan kepada ketujuh Gereja Pendiri Yayasan pakarti Mulia, bahwa lahan makam yang tersedia di lokasi Makam Kristen Bonoloyo telah habis, hanya tersisa untuk para pemilik Pamijen.
Maka pada bulan September 2009 tanah bakal lahan makam yang telah dibeli, mulai dikerjakan untuk persiapan lahan makam baru, diawali dengan pekerjaan pembuatan jalan masuk sepanjang kurang lebih 600 meter. Memohon doa segenap warga agar proses pembangunan makam itu segera dapat terselesaikan dengan lancar.
Melengkapi tulisan ini perlu untuk diketahui bahwa susunan Pengurus Yayasan Pakarti Mulia periode 2006 – 2011 adalah sebagai berikut :
PEMBINA :
- Pdt Widya WS Notodiryo S.Th
- Pdt Tanto Kristiono S.Th
- Pdt Bambang Mulyatno S.Th, M.Si.
- Pdt Wahtu Purwaningtyas S.Si
- Pdt Immanuel Adi Saputro S.Si
- Pdt Supranjono Eko Raharjo S.Si
PENGURUS :
- Drs Tri Supardi - Ketua Umum
- Edy Herdyanto SH,M.Hum - Ketua I
- Sularno BA – Ketua II
- Hery Sanyoto - Sekretaris Umum
- Djoko Suprapto - Sekretaris I
- Soewalgi - Sekretaris II
- Bambang Sri Wiyadi – Bendahara Umum
- Kis Yudhanto – Bendahara I
- Djoko Sembodo – Bendahara II
DEWAN PENGAWAS :
- Sugiyo S.Pd
- Isnandar
- Andreas Sukirno
- Alwi Karsetyohadi ( Alm ).
- Rachmad.
Demikan sekilas tentang Pengelolaan Makam Kristen Bonoloyo dan Yayasan Pakarti Mulia, kepada GKJ Nusukan yang saat ini ber Hari Ulang Tahun ke 40 ( lima windu ) diucapkan dirgahayu, semoga tetap mampu mewujudkan syaloom bagi semua. Tuhan memberkati pelayanan kita bersama.
2. Pralenan
Kegiatan Pralenan di GKJ Nusukan sebenarnya sudah pernah ada pada pertengahan tahun 1970-an, penamaan dalam struktur kemajelisan waktu itu adalah Komisi Pralenan, di bawah Seksi Pelayanan (waktu itu ada tiga seksi dalam struktur kemajelisan yaitu : Seksi Keesaan, Seksi Kesaksian dan Seksi Pelayanan). Personalia dalam komisi ini adalah Bp. Sastrowardoyo (Ketua), Bp. Puspoatmodjo (wakil Ketua) Bp. Partodihardjo (Penulis I), Bp. Sukardjo (Penulis II), Bp. Ngadiyo Dt. (Bendahara I) dan Bp. Suyoto (Bendahara II). Waktu itu kegiatan Komisi Pralenan meliputi : perawatan jenasah hingga upacara pemakaman di makam, membuatkan lelayu hingga mengedarkannya, serta pelayanan-pelayanan lainnya untuk membantu kelancaran prosesi pemakaman dari rumah duka hingga lokasi pemakaman.
Dalam hal pendanaan, waktu itu diadakan iuran Rp. 10,00 / bulan / KK. Prosesnya adalah beberapa orang aktifis di kelompok-kelompok yang dikoordinasikan oleh Komisi Pralenan jemput bola ke warga untuk mengumpulkan iuran pralenan. Dalam tahun 1970 ini terkumpul dana sebesar Rp. 4.710,50, serta dilayankan pelayanan kematian kepada 8 warga. Namun kegiatan ini rupanya tidak berlangsung lama karena hanya berlangsung kurang dari satu tahun, selanjutnya tidak ada kegiatan lagi.
Upaya menghidupkan Pralenan di Tahun 1998
Seperti dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa Pralenan ini sudah pernah ada di tahun 1970-an, tetapi hanya berlangsung kurang dari satu tahun, maka pada tahun 1998 ide pralenan ini dimunculkan kembali oleh Bapak G. Christyoboedi. Ide ini diilhami sewaktu menantunya (suami putri kedua Bp. Christyoboedi) meninggal, almarhum mendapat pelayanan cuma-cuma dari GKJ Rawamangun-Jakarta meliputi perawatan jenasah hingga mengantarkan jenasah hingga sampai di Solo. Bentuk pelayanan seperti ini nampaknya sangat menyentuh Keluarga beliau yang saat itu sedang berduka. Ide ini kemudian dibicarakan antara Bapak Christyoboedi, Bp. Soemarno Ds dan Bp. S. Triatmodjo. Hasil pembicaraan beliau kemudian disampaikan kepada Bapak Pendeta Iskak Mangunsaputro. Konsepnya adalah akan diadakan iuran pralenan bagi warga GKJ Nusukan, dan kepada warga yang menjadi anggota aktif pralenan akan mendapatkan bantuan pelayanan kematian gratis, sedangkan yang tidak menjadi anggota aktif tidak memperoleh pelayanan ini.
Menanggapi ide/usulan tentang pralenan ini Bapak Iskak tidak menyetujuinya jika yang mendapatkan layanan kematian dari gereja hanya warga yang ikut iuran pralenan aktif saja, karena gereja dalam keadaan bagaimanapun juga harus tidak boleh membeda-bedakan pelayanan kepada warga.. Atas tanggapan Bapak Iskak ini maka pada akhir 1998 diadakan rapat antara ketiga nama tersebut di atas ditambah Bp. Slamet Hadiwiryono. Hasil rapat setelah diajukan ke rapat pleno majelis disepakati adanya kegiatan pralenan bagi warga GKJ Nusukan, dengan kebijaksanaan pelayanan pralenan saat itu adalah sebagai berikut :
- Iuran sebesar Rp. 500,00 / KK/ bulan;
- Layanan kematian diberikan kepada setiap warga GKJ Nusukan tanpa kecuali berupa perawatan jenasah (pengerjaan oleh pangruktiloyo), mengurus peti jenasah (jika diminta keluarga) dan bantuan bedah bumi sebesar Rp. 125.000,00.
Kebijaksanaan pralenan dalam hubungannya dengan layanan kematian ini dalam pelaksanaannya bekerjasama dengan Pangruktiloyo dan Yayasan Pakarti Mulya (yayasan yang terdiri dari beberapa gereja termasuk GKJ Nusukan yang mengurusi makam khusus bagi warga gereja). Dan dalam perkembangannya bantuan bedah bumi tersebut di atas mengalami perubahan besarannya menjadi Rp. 150.000,00 (tahun 2006) ; Rp. 175.000,00 (Juni 2007 – Mei 2008); Rp. 200.000,00 (1 Januari 2008).
Atas layanan kematian ini banyak warga GKJ Nusukan merasa sangat terbantu ketika mereka sedang berduka karena anggota keluarganya ada yang meninggal.
Prosentase Anggota Aktif Pralenan Masih Rendah
Menurut Bapak Slamet Hadiwiryono (Pengurus Pralenan yang masih ada / hidup selain Bapak G. Christyoboedi) saat ini warga yang secara aktif membayar iuran pralenan masih sangat rendah bahkan cenderung statis dibandingkan jumlah KK warga GKJ Nusukan yang terus bertambah. Implikasinya, saat ini Pokja Pralenan sering mengalami defisit anggaran karena biaya-biaya yang dikeluarkan untuk layanan kematian sudah mengalami kenaikan dari waktu ke waktu, terlebih ketika nanti lokasi pemakaman sudah dipindahkan ke Jeruksawit – Karanganyar maka biaya-biaya akan naik karena retribusi-retribusi yang ditetapkan Pemmerintah Kabupaten Karanganyar.
Harapan Bapak Slamet Hadiwiryono sebagai orang yang sudah sepuluh tahun mengelola dana pralenan ini, supaya prosentasi keterlibatan warga dalam iuran pralenan terus diupayakan peningkatannya. Untuk ini tentunya peran aktif pengurus kelompok dan pamong sangat diharapkan. Dengan peningkatan prosentasi warga yang membayar iuran secara aktif maka pokja pralenan akan mampu menyesuaikan diri terhadap kenaikan biaya, dan anggaran tidak akan defisit lagi.
3. Perawatan Jenasah / Pangruktiloyo.
Sejak GKJ Nusukan didewasakan, bentuk pelayanan perawatan jenasah kepada warga yang meninggal ini sebenarnya sudah ada, meneruskan kegiatan yang sudah berjalan di GKJ Margoyudan dan GKJ Manahan. Bentuk pelayanan ini dari semula hingga sekarang sangat direspon positif oleh warga karena sangat menyentuh dan menguatkan warga disaat mereka sekeluarga sedang berduka.
Bagi petugas perawatan jenasah, mereka pada umumnya menyatakan bahwa pelayanan yang mereka lakukan ini terjadi karena panggilan pelayanan secara pribadi, sehingga betapapun beratnya menurut ukuran masyarakat pada umumnya, tetapi bagi mereka semuanya tidak ada yang berat asal dilakukan dengan tulus, iklas bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus. Sebagai aktifis gereja di bidang ini mereka harus selalu siap 24 jam sehari. Ada banyak peristiwa menarik yang dapat direfleksi selama mereka menjalankan pelayanannya (lihat dalam kisah-kisah menarik) .
Suatu ketika ada lebih dari satu warga yang meninggal dalam waktu bersamaan, keluarga minta supaya secepatnya dilakukan perawatan jenasah karena tim sangat terbatas, tentu tidak mungkin petugas dapat melakukannya dalam waktu bersamaan. Menyikapi hal ini bapak Ngadiyo sebagai aktifis perawatan jenasah paling lama di GKJ Nusukan (sejak 1970-an) berharap agar di tiap-tiap kelompok ada kader untuk perawatan jenasah ini, sehingga tidak bergantung tim dari Induk sebagai satu-satunya petugas perawatan jenasah di GKJ Nusukan.
I. Pelayanan Siraman dan Jimpitan
Bentuk pelayanan siraman dan jimpitan ini sudah ada sejak didewasakannya GKJ Nusukan, melanjutkan pelayanan serupa yang sudah ada di GKJ Margoyudan. Istilah pengumpulan beras dari warga pada waktu itu adalah lumbung beras, yang mana dari kegiatan pengumpulan ini kemudian disalurkan untuk keperluan pelayanan warga gereja yang berkekurangan secara ekonomi, untuk staf kantor, dan keperluan bantuan sosial / kemanusiaan jika diperlukan. Sekarang ini istilah lumbung beras menjadi istilah jimpitan, yang bermaksud kegiatan pengumpulan beras dari warga gereja.
Kegiatan siraman dan jimpitan ini semula dikhususkan bagi “warga rimatan/jempon”, yaitu warga yang berdasarkan syarat-syarat tertentu serta tidak mampu menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Ada dua kategori warga rimatan, yaitu : warga rimatan tetap dan warga rimatan tidak tetap.
Warga rimatan tetap mendapat layanan berupa beras dan uang lauk pauk, sedangkan warga rimatan tidak tetap mendapat layanan uang bantuan transportasi (untuk ke gereja). Bagi warga rimatan tetap, pelayanan diberikan hingga yang bersangkutan meninggal dunia, dan segala keperluan untuk pemakaman menjadi tanggung jawab Gereja.
Namun demikian dalam perkembangannya yang mengikuti pelayanan ini bukan saja warga yang termasuk kategori warga rimatan saja, tetapi banyak warga usia lanjut yang memang dalam hal tertentu mereka sangat menikmati pelayanan ini seperti misalnya pelayanan siraman rohani, pelayanan kesehatan, serta pelayanan-pelayanan lainnya.
J. Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan ini sudah dilakukan di GKJ Nusukan sejak tahun 1990-an. Ada pelayanan yang dilakukan kepada warga GKJ pada umumnya, dan ada pula pelayanan kesehatan untuk warga GKJ Nusukan secara khusus seperti pelayanan kesehatan untuk warga usia lanjut, yang pelaksanaannya dilakukan bersamaan dengan kegiatan siraman rohani bagi “warga rimatan”.
Disamping dua pelayanan kesehatan tadi, ada pula kegiatan pelayanan kesehatan yang diperuntukkan bagi masyarakat umum. Kegiatan ini biasa dilakukan bekerjasama dengan gereja dan atau kelompok masyarakat lainnya seperti pondok pesantren,pemuda masjid, serta masyarakat wilayah tertentu. Sejak adanya pelayanan kesehatan ini sudah beberapa kali diadakan pelayanan kesehatan untuk masyarakat umum diantaranya :
1. Tahun 2002 GKJ Nusukan bekerja sama dengan Pondok Pesantten Al Ikhsan – Mojosonga Asuhan Bapak K.H. Ali Pono (mbah Pono) mengadakan kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat di Praon. Kegiatan didukung oleh tim kesehatan dari GKJ Nusukan, mahasiswa AKBID Mojosongo 10 orang, Relawan Pesantren 5 orang, dr. Agus Partatmo (GKJ Bibis Luhur), dr. Iriani (GKJ Nusukan), dr. Benedictus Yulianto (RC). Hadir pula dalam kegiatan ini Bp. Pdt. Eko Prasetyo dan beberapa majelis GKJ Nusukan. Ada 325 pasien yang terlayani dalam kegiatan ini.
2. Tahun 2008 GKJ Nusukan bekerjasama dengan Pemuda Masjid Tamirul Wathon Nusukan mengadakan kegiatan pelayanan kesehatan di RW IX, Minapadi, Nusukan. Kegiatan ini didukung oleh Pokja Kesehatan GKJ Nusukan, Pemuda Masjid Tamirul Wathon 10 orang, Tokah masyarakat setempat, dokter PUSKESMAS Nusukan, dokter dan paramedis dari GKJ Sumber, dr. Iriani (GKJ Nusukan) dan dr. Tavip (GKJ Nusukan).
Hadir dalam kegiatan ini beberapa majelis seperti Bp. Edy Suprapto, Bp. Agus Sulistyono, Ibu Siti Lir Fitri Ngadirin, Bapak Baroto A.S dan Sdr. Rachmi Sita Dwi Putri, dll.
K. Pelayanan Bantuan Pendidikan
Dalam perjalanan GKJ Nusukan, pelayanan bantuan pendidikan ini sudah ada sejak pertengahan tahun 1970-an. Waktu itu bantuan pendidikan diberikan kepada anak dari warga gereja yang tidak mampu membiayai sekolah anaknya. Sekarang bantuan pendidikan ini tidak hanya bagi anak-anak dari warga GKJ Nusukan saja, tetapi juga untuk anak-anak dari non warga gereja yang memang tidak mampu membiayai sekolah anaknya.
Pola pembiayaan bantuan pendidikan ini jika pada tahun 1970-an dialokasikan dari kas jemaat (anggaran gereja), maka mulai tahun 1995 dikombinasikan dengan pola pembiayaan melalui orang tua asuh. Pada saat itu ada sekitar 85 anak yang membutuhkan bantuan biaya pendidikan. Ide orang tua asuh ini kemudian ditawarkan kepada warga yang berkelebihan ekonominya, dan sambutan warga ternyata sangat positif. Banyak warga dan non-warga GKJ Nusukan yang tergerak menjadi orang tua asuh. Saat itu donatur yang masuk berasal dari warga dan non warga GKJ Nusukan serta Yayasan Krisa Paramita (YKP).
L. Pelayanan Perkunjungan / Patuwen.
Bentuk pelayanan ini mulai ada sejak GKJ Nusukan belum didewasakan, dan terus ada hingga sekarang, yaitu dengan mengunjungi warga yang sedang kesusahan serta memberikan sekedar bingkisan bagi warga yang sedang sakit. Bentuk pelayanan ini sangat dirasakan manfaatnya oleh warga yang memang sedang membutuhkan perkunjungan. Mereka merasa ada penghiburan dan dikuatkan untuk segera bisa keluar dari permasalahan / kesusahan ataupun sakitnya.
M. Koperasi Harapan Kasih dan Lembaga Pelayanan Minat Diakonia (MIDI).
Dua bentuk pelayanan ini, baik Koperasi Harapan Kasih dan Minat Diakonia adalah merupakan lembaga pelayanan yang keberadaannya sebagai kepanjangan tangan Majelis, untuk melakukan pelayanan bagi warga maupun non warga GKJ Nusukan. Namun demikian Kepengurusan dan pertanggungjawaban di luar struktur kemajelisan.
Berawal dari sebuah pemikiran dari seorang warga GKJ Nusukan yaitu Bapak Ir. Sutrisno. Waktu itu di tahun 1980 ada seorang aktifis gereja dari Amerika Serikat yaitu Ny. Merry …, isteri dari mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat. Waktu itu beliau sedang di Indonesia mengikuti suami Paul Wolfowits sebagai Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia. Beliau mengadakan pelatihan bagi orang-orang muda untuk berpelayanan. Dari pemikiran ini kemudian pada minggu III bulan April Majelis GKJ Nusukan memutuskan untuk segera membuat perencanaan ihwal pelayanan ini. Perencanaan dan persiapan dilakukan hingga bulan Mei 1980.
Selanjutnya dengan difasilitasi oleh Yayasan Indonesia Sejahtera diadakanlah pelatihan untuk kader-kader pelayanan diakonia hingga tiga gelombang, yaitu :
Gelombang I, pada bulan Juni 1980, di Sangkal Putung – Klaten, diikuti sekitar 30 peserta, diantaranya : Ibu Sutrisno Kusumohadi, Bp. Triatmo, Bp. Sutardi Mw, Bp. Broto Sudarmo, Bp. Madiman, Bp. Samidi Pw, Ibu Sawarti, Ibu Kustam, Ibu Sulistyoningsih, dll.
Pada Gelombang ini Narasumbernya : Bp. Ir. Sutrisno Kusumohadi, Ny. Merry … , dan Bp. Bambang Purwanto.
Setelah Pelatihan ini kemudian dibentuk Koperasi Harapan Kasih, dengan kegiatan utama simpan- pinjam, dengan anggota warga GKJ Nusukan.
Gelombang II, pada bulan Juni 1982, di Kaliurang, diikuti antara lain oleh: Bp/Ibu. Agus Widodo, Bp/Ibu Eko Purwadi, Ibu Sawarti, Ibu Prasetyo Utomo, Bp/Ibu Sumarno Ds, Ibu Pudyastuti, Ibu Agung Gde Raka, Ibu Umiyatsih, Bp/Ibu Suhendro, Ibu Saptowiharjo, dll.
Narasumber : Bp. Ir. Sutrisno Kusumohadi, Ny. Merry dan Bp. Bambang Purwanto.
Setelah Pelatihan ini segera terbentuk lembaga pelayanan Minat Diakonia (MIDI). Ada tiga bentuk layanan yang dilakukan pada saat itu yaitu :
- Seksi Usaha, yang kemudian melahirkan kegiatan Usaha Bersama (UB) MIDI, yang kegiatan utamanya adalah basar untuk mewadahi usaha-usaha yang dilakukan warga GKJ Nusukan. Kepengurusan Pertama diketuai oleh Bp. Sutardi Mangunwiratmo.
- Seksi Kesehatan, dengan kegiatan utama waktu itu adalah “jambanisasi”, yaitu sebuah kegiatan untuk menciptakan lingkungan rumah yang sehat dengan membuat

