Dari : Alkitab di Tanah Hindia Belanda
Bahasa Jawa dipakai oleh kurang lebih dua per tiga penduduk Jawa. Bahasa jawa ini memiliki hurufnya sendiri, yang diadaptasi dari huruf Devanagari, dan kebanyakan Kitab Suci dipublikasikan dalam bentuk huruf ini, meskipun sedikit diantaranya diterbitkan dalam huruf Arab. (Biasa dikenal di Jawa sebagai huruf Pegon), dan Perjanjian Baru diterbitkan dalam huruf roman pada tahun 1911. Kitab Suci pertama kali adalah Perjanjian Baru, yang diterjemahkan oleh Gottlob Bruckner, seorang misionaris dari Baptist missionary of Semerang. Versi ini dicetak pada tahun 1829 di Serampore. The British and Foreign Bible Society memberikan penerjemah (*L*) 500 untuk 1.000 kopi.
BACAAN :
- Bacaan I : Ayub 38 : 1-11
- Antar Bacaan : Mazmur 107 : 1-3, 23-32
- Bacaan II : II Korintus 6 : 1-13
- Bacaan Injil : Markus 4 : 35-41
- Ayat persembahan : Mazmur 50 : 23
- Berita Anugerah : Mazmur 28 : 8
- Petunjuk Hidup Baru : Habakuk 3 : 17-19
TUJUAN : Jemaat mampu menyadari bahwa penderitaan atau badai kehidupan itu bukan hal yang harus ditakuti tapi harus disyukuri. Karena dalam penderitaan itu kuasa Tuhan justru terlihat besar.
BACAAN :
- Bacaan I : 1 Samuel 3 : 1-10 (11-20)
- Antar Bacaan : Mazmur 139 : 1-6, 13-18
- Bacaan II : 1 Korintus 6 : 12-20
- Bacaan Injil : Yohanes 1 : 43-51
- Ayat persembahan : 1 Petrus 5 : 7,10
- Berita Anugerah : 1 Timotius 1 : 9
- Petunjuk Hidup Baru : 1 Tesalonika 4 : 7-8
TUJUAN : Jemaat menyadari bahwa setiap orang dipanggil Tuhan dengan cara yang berbeda, tapi dengan maksud yang sama, yaitu untuk menguduskan dan memulihkan yang lain.
DASAR PEMIKIRAN
Panggilan untuk mewartakan Kerajaan Allah kepada orang yang lain itu adalah suatu anugerah dan rahmat dari Tuhan : “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15:16). Karena itu sudah seharusnya orang yang mendengar panggilan Tuhan, segera menjawab/merespon dan mewujudnyatakn panggilan tersebut.
Sayangnya, dewasa ini budaya “mendengar dan menjawab” panggilan Tuhan semakin melemah. Ada banyak alasan yang menyebabkannya. Diantaranya :
- merasa tidak pernah mendengar panggilan Tuhan
- Kalau pun mendengar, ada perasaan tidak yakin bahwa yang memanggilnya itu adalah Tuhan
- Kalau pun yakin bahwa yang memanggilnya adalah Tuhan, ada perasaan bahwa dirinya tidak layak dan tidak mampu mengerjakannya
- Kalaupun sudah diyakinkan bahwa sekalipun tidak layak tapi Tuhan akan memampukannya, tetap masih ada perasaan tidak siap untuk benar-benar terjun dalam pelayanan. Karena konsekuensi besar dan berat sudah menunggunya
- Dll.
Pertanyaannya : bagaimana caranya agar jemaat menyadari bahwa panggilan Tuhan itu terus menerus terjadi? Bagaimana caranya agar jemaat bisa menjawab “ya” atas panggilan Tuhan dan siap melakukannya sekalipun konsekuensinya berat?


